Gerbang Laut Terstandarisasi, Pelabuhan Sampalan dan Bias Munjul Jadi Bukti Bahwa Pelayaran Bisa Bertransformasi
Pelabuhan Sampalan dan Bias Munjul terus memperkuat perannya sebagai titik vital konektivitas Bali–Nusa Penida. Dikenal sebagai bagian dari pelabuhan segitiga emas, kawasan ini menjadi salah satu simpul utama pergerakan penumpang dan pariwisata dengan arus lebih dari 50.000 penumpang setiap bulannya, yang didominasi oleh wisatawan mancanegara dari Eropa, Tiongkok (China), dan India.
Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan, kebutuhan akan sistem pelayanan pelabuhan yang tertata, aman, dan terstandarisasi menjadi semakin penting. Pelabuhan tidak lagi hanya berfungsi sebagai titik sandar kapal, tetapi juga sebagai wajah pertama layanan transportasi laut yang menentukan kualitas perjalanan.
Digitalisasi Sesuai Kebijakan Nasional
Sebagai tindak lanjut kebijakan standarisasi nasional, Pelabuhan Sampalan dan Bias Munjul mengimplementasikan digitalisasi transportasi laut sesuai Surat Edaran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (SE DJPL) No. 33 Tahun 2023. Kebijakan ini mendorong penerapan sistem digital untuk meningkatkan tata kelola pelabuhan, keselamatan pelayaran, serta perlindungan bagi penumpang.
Implementasi tersebut diwujudkan melalui penerapan sistem boarding kapal yang terintegrasi dengan sistem manajemen penumpang terverifikasi nasional, di mana setiap data penumpang tercatat, tervalidasi, dan tersinkronisasi sesuai standar nasional. Sistem ini menjadi fondasi baru dalam pengelolaan penumpang dan operasional penyeberangan yang lebih tertib dan terkontrol.
Meningkatkan Akurasi Manifest, Kuota, dan Keamanan
Melalui sistem boarding kapal berbasis digital dan sistem boarding terverifikasi nasional, pencatatan data manifest penumpang dilakukan secara lebih akurat dan real-time, sehingga seluruh pergerakan penumpang dapat dipantau secara terpusat dan terpercaya. Setiap penumpang terverifikasi dengan jelas, sehingga meminimalkan potensi kelebihan muatan sekaligus mendukung pengawasan operasional yang lebih optimal.
Selain itu, penerapan sistem ini membantu standarisasi kuota kapal, memastikan jumlah penumpang sesuai dengan kapasitas yang telah ditetapkan. Dengan pengaturan yang lebih sistematis, aspek keamanan dan keselamatan perjalanan laut menjadi prioritas utama dalam setiap proses penyeberangan.
MKP sebagai Mitra Strategis Digitalisasi Pelabuhan
Dalam proses transformasi ini, MKP hadir sebagai mitra strategis digitalisasi pelabuhan yang mendampingi implementasi sistem secara menyeluruh. Tidak hanya menyediakan teknologi MKP Boarding, MKP juga berperan dalam integrasi sistem, penyesuaian dengan regulasi nasional, serta pendampingan implementasi di lapangan.
Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan pengelola pelabuhan untuk beradaptasi secara bertahap, memastikan sistem berjalan efektif, dan tetap relevan dengan kebutuhan operasional sehari-hari. Dengan dukungan MKP, pelabuhan dapat beroperasi lebih efisien, transparan, serta siap menghadapi pertumbuhan penumpang yang berkelanjutan.
Menuju Ekosistem Pelayaran yang Berkelanjutan
Transformasi Pelabuhan Sampalan dan Bias Munjul menjadi contoh nyata bagaimana digitalisasi transportasi laut mampu mendorong peningkatan kualitas layanan publik di sektor pelayaran. Dengan ekosistem yang lebih tertata dan terintegrasi, pelabuhan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pariwisata, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh pengguna jasa.
Ke depan, digitalisasi pelabuhan bukan hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga langkah strategis menuju gerbang laut berstandar global yang berkelanjutan dan berdaya saing melalui penerapan sistem manajemen penumpang terverifikasi nasional yang andal.
Member discussion